OSN 2026 Ungkap Potensi Kekayaan Nabati Indonesia, Sains dan Teknologi Jadi Kunci Pengembangannya

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menutup Olimpiade Sains Nasional 2026 di Kota Malang, Sabtu (19/9/2026).

NUSANTARA.ID – Olimpiade Sains Nasional (OSN) Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2026 resmi ditutup Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (19/9).

Sebanyak 566 talenta sains dari berbagai daerah mengikuti kompetisi tersebut. Para peserta berkompetisi dalam sembilan cabang, yakni astronomi, biologi, ekonomi, fisika, geografi, informatika, kebumian, kimia, dan matematika.

Pada penutupan OSN 2026, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pengembangan sains dan teknologi perlu tetap berkaitan dengan potensi alam, sosial, serta budaya Indonesia, termasuk kekayaan hayati dan nabati.

“Teruslah belajar untuk meraih cita-cita dan teruslah belajar agar kalian menjadi saintis Indonesia, ilmuwan Indonesia yang berkepribadian Pancasila, berakhlak mulia, dan akan membawa bangsa Indonesia meraih kemajuan dan kejayaan dengan kemajuan sains dan teknologi yang kalian kembangkan,” tutur Mendikdasmen, dikutip dari laman Kemendikdasmen.

Menurut Abdul Mu’ti, peserta yang mencapai tingkat nasional telah melalui proses seleksi dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Pengembangan kemampuan tersebut berkaitan dengan pengalaman, pembelajaran, serta keberanian untuk mencoba.

Pembahasan mengenai potensi Indonesia juga mencakup berbagai kekayaan yang dapat menjadi objek pengembangan ilmu pengetahuan. Abdul Mu’ti menyebut kekayaan alam, hayati, nabati, dan sosial budaya sebagai bagian dari potensi tersebut.

“Kami berharap ajang ini dapat memberikan motivasi bagi anak-anak kita untuk lebih giat belajar dan juga mengembangkan diri sebagai saintis muda Indonesia yang mampu untuk menerapkan teori sekaligus juga dapat mengeksplorasi berbagai kekayaan yang kita miliki, baik kekayaan alam, kekayaan hayati, kekayaan nabati, kekayaan sosial budaya, yang semuanya dapat menjadi objek formal dan material dari pengembangan ilmu pengetahuan,” jelas Mendikdasmen.

Selain kompetisi dalam sembilan cabang, rangkaian OSN 2026 juga diisi Bina Talenta Indonesia Kolaboratif dan Eksibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA). Kegiatan tersebut mencakup pengalaman kompetisi dan kolaborasi lintas bidang.

Dari 566 finalis OSN 2026, sebanyak 45 peserta meraih medali emas, 90 peserta memperoleh medali perak, dan 135 peserta mendapatkan medali perunggu. DKI Jakarta menjadi juara umum dengan 82 medali.

Pada EKKA, dua peserta meraih medali emas, empat peserta memperoleh medali perak, dan enam peserta mendapatkan medali perunggu melalui Partisipasi Semesta, kerja sama Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Universitas Cakrawala, dan Casio.

Selain medali, peraih OSN 2026 memperoleh uang pembinaan serta kesempatan mengikuti pembinaan talenta dan seleksi ajang internasional. Peraih emas mendapat Rp25 juta, perak Rp20 juta, dan perunggu Rp15 juta.(*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items