Perang Iran-AS Pecah, Harga Minyak Goreng dan Pupuk Petani di Indonesia Terancam Melonjak

Pemerintah Iran dalam perkembangan konflik Iran-AS di Teheran, Minggu (27/09/2026).

NUSANTARA.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak lagi mempercayai negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) setelah putaran pembicaraan sebelumnya diikuti serangan dan sanksi. Teheran kini menantikan tanggapan atas usulan terbarunya untuk mengakhiri perang.

Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengunjungi AS untuk menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Iran mengusulkan kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran dan membuka kembali Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut berlangsung ketika jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam pembahasan penghentian perang. Pezeshkian menyatakan ketidakpercayaan terhadap negosiasi dengan AS setelah pengalaman pembicaraan sebelumnya.

“Kami tidak memiliki kepercayaan terhadap pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka,” ujar Pezeshkian, dikutip dari laman detiknews dalam artikel berjudul "Presiden Iran Tegaskan Tak Percaya AS, Anggap Blokade Hormuz Respons Wajar".

Usulan Iran mencakup penghentian pertempuran serta pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Teheran juga meminta tanggapan Washington terhadap proposal tersebut di tengah berlangsungnya konflik.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi karena kawasan tersebut merupakan jalur penting perdagangan minyak dan gas. Perubahan kelancaran pelayaran dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas energi dunia.

Dampak perubahan harga energi juga berkaitan dengan biaya produksi berbagai sektor, termasuk pertanian. Salah satu komponen yang terdampak dalam kondisi gangguan pasokan global adalah pupuk, terutama ketika distribusi bahan baku mengalami hambatan.

International Food Policy Research Institute (IFPRI) mencatat harga pupuk nitrogen telah bergerak kembali mendekati tingkat sebelum perang. Namun, harga urea dan amonia masih menghadapi risiko kenaikan apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Sementara itu, harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Indonesia juga mengalami perubahan. Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi CPO September 2026 sebesar 1.007,51 dolar Amerika Serikat per metrik ton.

Harga referensi tersebut naik 1,10 persen dibandingkan periode Agustus 2026 yang berada pada level 996,52 dolar Amerika Serikat per metrik ton. Perubahan harga CPO menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perdagangan komoditas sawit.

Perkembangan konflik Iran dan AS serta kondisi Selat Hormuz selanjutnya masih menjadi perhatian pasar energi dan pertanian. Perubahan pasokan, harga komoditas, dan kelancaran perdagangan akan menentukan perkembangan harga pada periode berikutnya.(*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items